MANFAAT DAN KANDUNGAN GIZI JAMUR TIRAM

Jamur Tiram Putih adalah jamur yang hidup pada kayu-kayu lapuk, serbuk gergaji, limbah jerami, atau limbah kapas. Dinamakan jamur tiram karena mempunyai flavor dan tekstur yang mirip tiram yang berwarna putih. Tubuh buah jamur ini menyerupai cangkang kerang, tudungnya halus, panjangnya 5-15 cm. Bila muda, berbentuk seperti kancing kemudian berkembang manjadi pipih. Ketika masih muda, warna tudungnya cokelat gelap kebiru-biruan. Tetapi segera menjadi cokelat pucat dan berubah menjadi putih bila telah dewasa. Tangkai sangat pendek berwarna putih.

Jamur ini sangat populer saat ini. Teksturnya lembut, penampilannya menarik, dan cita rasanya relatif netral sehingga mudah untuk dipadukan pada berbagai masakan. Budidayanya juga relatif mudah dan murah hingga sangat potensial dikomersialkan.

Selain kelezatannya, Jamur tiram juga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Jamur mempunyai nilai gizi tinggi terutama kandungan proteinnya (15-20 persen berat keringnya). Daya cernanya pun tinggi (34-89 persen). Sifat nutrisi (kelengkapan asam amino) yang dimiliki oleh jamur lebih menentukan mutu gizinya. Jamur segar umumnya mengandung 85-89 persen air. Kandungan lemak cukup rendah antara 1,08-9,4 persen (berat kering) terdiri dari asam lemak bebas mono ditriglieserida, sterol, dan phoshpolipida.

Karbohidrat terbesar dalam bentuk heksosan dan pentosan polimer karbohidrat dapat berupa glikogen, khitin dan sebuah polimer N-asetil glikosamin yang merupakan komponen struktural sel jamur. Khitin merupakan unsur utama serat jamur titam putih. Jamur juga merupakan sumber vitamin antara lain thiamin, niacin, biotin dan asam askorbat. Vitamin A dan D jarang ditemukan pada jamur, namun dalam jamur tiram putih terdapat ergosterol yang merupakan prekursor vitamin D. Jamur umumnya kaya akan mineral terutama phosphor, mineral lain yang dikandung di antaranya kalsium dan zat besi. Selain kandungan gizinya yang tinggi, jamur tiram juga mengandung senyawa-senyawa lainnya yang penting bagi aspek medis. Seperti kita ketahui pada masyarakat Jepang dan Cina, menu makanan yang terbuat dari jamur sudah menjadi menu yang turun temurun karena mengetahui khasiatnya yang sangat baik bagi tubuh. Di Indonesia, konsumsi jamur tiram dari tahun ke tahun diketahui semakin meningkat seiring dengan kebutuhan masyarakat akan produk pangan yang sehat dan terjangkau.

Sumber:

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080725012217AAuz1WC

http://organikganesha.wordpress.com/2009/10/05/kandungan-gizi-jamur-tiram-pangan-masa-depan-yang-lezat-dan-sehat-baik-untuk-anti-kolesterol-dan-anti-kanker/

http://jamurtiramputih.wordpress.com/2008/05/20/manfaat-jamur-nilai-gizi/

Laporan Praktikum Genetika Molekular Tanggal praktikum : 23 maret 2010
BIO 4
Asisten Praktikum:
Nama          : Ratna Puspita 1. Ruri P. Arimbi        (G34060327)
NIM            : G34070040 2. Nijma Nurfadila      (G34061003)
Kelompok   : 3 3. Muslihatun Baroya   (G34061453)

PEMOTONGAN DNA DENGAN ENZIM RESTRIKSI

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk Mengetahui dan melakukan pemotongan DNA dengan enzim Restriksi.

Metode

5 µl DNA + 2 µl larutan buffer enzim

12,5 µl ddH2O

Inkubasi selama 1 jam pada suhu 37°C

Diuji elektroforesis

3

Hasil Pengamatan

Keterangan:

1. plasmid PGM T EASY

2. 1 kb

3. DNA genom kelompok 3

4. Plasmid kelompok 3

Pembahasan

Kebanyakan molekul DNA dalam sel berukuran lebih besar dari yang diperlukan untuk analisa DNA di laboratorium.  Jika akan mempelajari gen secara individual, molekul DNA berukuran besar di dalam sel harus dipotong ke dalam fragmen-fragmen yang lebih kecil.  Pemotongan DNA ini dilakukan dengan menggunakan enzim endonuklease restriksi.  Nuklease ini adalah enzim yang memotong DNA pada tempat tertentu dengan cara mengenali urutan basa yang spesifik (Sambrook 1989). Bagian pada DNA yang dikenai aksi pemotongan oleh enzim restriksi ini dinamakan sekuens pengenal. Pemotongan DNA dengan enzim restriksi memiliki dua jenis ujung potongan yaitu hasil pemotongan sticky end (ujung runcing/tidak rata) dan blund end (ujung tumpul/rata). Potongan berujung rata dihasilkan oleh pemotong enzim restriksi pada pusat simetri, sedangkan potongan berujung tidak rata di luar pusat simetri (Brown 2003). Pemotongan DNA bertujuan untuk mengetahui ukuran molekul DNA, mengisolasi fragmen DNA tertentu, dan membuat celah sisipan dari pemotongan DNA.

Enzim yang digunakan pada praktikum ini adalah enzim EcoRI. Enzim ini mengenali urutan DNA 5′-GAATTC-3′. Fragmen-fragmen DNA utas ganda yang dihasilkan akan memiliki ujung potongan tidak rata. Ujung seperti ini yang dikenal dengan istilah sticky ends atau cohesive ends (Stanfiels et al. 1996). Sementara itu, plasmid yang digunakan dalam praktikum ini adalah plasmid PGM T EASY dari bakteri Escherichia coli sebagai inang. Dalam rekayasa genetika plasmid sering digunakan sebagai vektor untuk membawa gen-gen  tertentu  yang  diinginkan  ke  dalam  suatu  sel  inang (Brolle et al. 1997). Enzim restriksi yang telah memotong DNA selanjutnya dilakukan proses elektroforesis pada gel agarose untuk mengetahui kesempurnaan enzim dalam memotong DNA. Berdasarkan hasil percobaan, dapat dilihat bahwa pada pita (fragmen) DNA yang direstriksi terdapat DNA genom dan plasmid. Seharusnya hasil yang didapat hanya menunjukkan plasmid saja karena EcoRI telah memotong DNA dengan sempurna.

Kualitas DNA berhubungan dengan tingkat kemurnian DNA dari berbagai kontaminasi. Adanya DNA genom setelah proses pemotongan oleh EcoRI menunjukkan bahwa DNA sampel yang diuji belum murni atau masih terdapat kontaminasi dari protein atau makromolekul lainnya yang belum sepenuhnya hilang. Hal ini dapat disebabkan karena proses isolasi yang belum dilakukan dengan baik, misalnya pada proses pelisisan membran, ada beberapa makromolekul yang belum terlisis dengan baik, atau saat pencucian gel agarosa yang tidak dibilas dengan bersih, ketidakmurnian tersebut juga dapat disebabkan waktu inkubasi yang kurang atau enzim restriksi yang keadaanya sudah kurang baik (Lodish et al. 1995).

Simpulan

Enzim restriksi endonuklease (EcoRI) memotong DNA pada bagian yang urutan basanya adalah GAATTC. Enzim ini memotong DNA secara spesifik. Pemotongan DNA dengan EcoRI yang dilakukan belum berhasil karena masih terdapat DNA genom.

Daftar Pustaka

Brolle et al. 1997. Microbiology Biotechnology. Germany: University of Tubingen.

Brown TA. 2003. Pengantar Cloning Gen. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica.

Lodish et al.1995. Molecular Cell Biology. New York: Scientific American Books.

Sambrook J.  1989.  Molecular Cloning.  USA: Harbor Lab Press.

Stanfiels WD, Jaime SC, Raul JC. 1996. Molecular and Cell Biology. New York:                                     Mc Graw-Hill.

Lap. Praktikum Kimia Analitik                                      PJP:                 Zulhan Arif S.Si

Nama/NRP:     Ratna Puspita/G34070040                                Asisten:            Nafiul

Kelompok:       D

Hari/Tanggal:    Senin/1 Maret 2010

PENGENALAN KEMBALI ALAT LABORATORIUM

Prinsip Teori (Latar Belakang)

Peralatan Analisis Kimia dan Cara Penggunaannya

Alat-alat analisis kimia yaitu alat-alat yang sering digunakan dalam pekerjaan analisis kimia; seperti: pipet volumetri, labu takar, buret, labu erlenmeyer, dan neraca analitik. Adapun alat-alat kimia yang lainnya sebagai pendukung pekerjaan analisis yaitu gelas kimia, gelas ukur, pipet ukur, tabung reaksi, pipet, corong, maupun batang pengaduk. Untuk memperoleh hasil yang baik dalam analisis kimia diperlukan cara-cara yang khusus dalam pemakaian dan pemeliharaannya. Alat-alat analisis kimia umumnya digunakan dalam pekerjaan titrasi, gravimetri, maupun analisis secara instrumentasi. Adapun untuk pekerjaan analisis kuantitatif anorganik yang perlu ketelitian lebih besar maka sebelum pemakaian alat-alat volumetri yang terbuat dari gelas sebaiknya dilakukan dahulu kalibrasi alat.

Metode Analisis

Metode analisis kuantitatif anorganik merupakan salah satu metode analisis kimia yang menitikberatkan pada cara yang digunakan pada waktu pengukuran suatu sampel, contohnya titrimetri. Titrimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Analisa kuantitatif bertujuan untuk menentukan jumlah suatu zat atau komponen zat. Pada analisis ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat yang kita cari dapat dihitung (Syukri 1999). Pada analisis titrimetri diperlukan larutan baku. Larutan baku adalah larutan yang harus diketahui dengan teliti konsentrasinya. Dalam titrasi, konsentrasi larutan baku harus diketahui sampai empat desimal (Harjadi 1986).

Reaksi titrasi, yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit ke dalam suatu erlenmeyer, sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi ekivalen satu sama lain. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna. Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah 1990).

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengenali alat-alat laboratorium serta fungsi dan cara penggunaannya dalam proses analisis. Selain itu, untuk memahami dan melakukan standarisasi larutan serta menggunakannya untuk analisis kuantitatif sampel serta menentukan konsentrasi HCl dan NaOH dengan menggunakan larutan standar.

Prosedur Percobaan

Prosedur percobaan inventarisasi alat laboratorium, alat-alat laboratorium diperiksa dengan teliti, jenis, jumlah, dan spesifikasinya. Alat yang sudah pecah/retak diganti dengan peralatan sejenis. Pemeriksaan dilaksanakan dua kali, di awal dan di akhir dari setiap sesi praktikum. Prosedur percobaan latihan penggunaan alat, terdiri atas empat langkah, yaitu menimbang, labu takar dan pipet, latihan titrasi, serta penentuan konsentrasi HCl dan NaOH.

Timbang kristal boraks, kristal boraks ditimbang menggunakan neraca analitik dengan bobot 0,9535 g. Setelah ditimbang, dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml (pelarut: air). Lalu dibuat larutan HCl 0,1 M sebanyak 0,2 g. Standardisasi HCl, larutan baku boraks dipipet 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml, ditambahkan indikator merah metil (MM). Larutan boraks dititrasi dengan larutan HCl sampai terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah. Standardisasi dilakukan tiga kali, kemudian dicatat perubaha warna yang terjadi, volume titran yang terpakai, serta konsentrasi HCl.

Timbang kristal asam oksalat, kristal asam oksalat ditimbang dalam gelas arloji menggunakan neraca analitik dengan bobot 0,315 g. Setelah ditimbang, dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml (pelarut: air). Lalu dibuat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 0,4 g. Standardisasi NaOH, larutan baku asam oksalat dipipet 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml, ditambahkan indikator fenoftalein (PP). Larutan asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOH sampai terjadi perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Standardisasi dilakukan tiga kali, kemudian dicatat perubaha warna yang terjadi, volume titran yang terpakai, serta konsentrasi titran (NaOH).

Penentuan konsentrasi NaOH dan HCl. Titran yang digunakan sama dengan titran yang distandardisasi pada prosedur standardisasi titran di atas. Larutan NaOH atau HCl dipipet 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml. Indikator merah metil, jingga metil, bromtimol biru atau fenoftalein ditambahkan. Kemudian larutan dititrasi dengan titran sampai terjadi perubahan warna. Titrasi dilakukan triplo untuk setiap jenis indikator yang digunakan. Volume titran yang terpakai dan warna larutan dicatat pada saat perubahan warna tersebut.

Hasil Pengamatan

Standardisasi Titran

v     Timbang boraks (Na2B4O7) = 0,9535

Indikator:          merah metil

Titrat:               boraks

Titran:               HCl

Tabel 1. Titrasi boraks oleh HCl (titrasi basa lemah oleh asam kuat)

Ulangan Boraks (m) Vol. Boraks (m) Vol. HCl [HCl]
Awal Akhir Terpakai
1 0,1 10 0 12,8 12,8 0,0781
2 0,1 10 12,8 25,5 12,7 0,0787
3 0,1 10 25,5 38,4 12,9 0,0775
Total (m) 0,0781

Contoh perhitungan:

Konsentrasi HCl ulangan 1:

v1.m1 = v2.m2

10.1     = 12,8.m2

1          = 12,8m2

m2 = 0,0781

Reaksi: Na2B4O 7 + 5H2O + 2HCl  →  2NaCl + 4H3BO3

Perubahan warna:         kuning  → merah

v     Timbang kristal asam oksalat (COOH)2 2H2O = 0,3150

Indikator:          fenolftalein

Titrat:               asam oksalat

Titran:               NaOH

Tabel 2. Titrasi asam oksalat oleh NaOH (titrasi asam lemah oleh basa kuat)

Ulangan As.oksalat (m) V. as. oksalat (m) Vol. HCl [NaOH]
Awal Akhir Terpakai
1 0,1 10 7,5 18,8 11,3 0,0885
2 0,1 10 18,8 30 11,2 0,0893
3 0,1 10 30 41,2 11,2 0,0893
Total (m) 0,0890

Contoh perhitungan:

Bobot kristal asam oksalat:

M         = gram/BE x 1000/v

0,1       = gram/63 x 1000/50

6,3       = 20 gram

Gram    = 0,315

Bobot NaOH:

M         = gram/BM x 1000/v

0,1       = gram/40 x 1000/100

4          = 10 gram

Gram    = 0,4

Konsentrasi NaOH ulangan 1:

v1.m1 = v2.m2

10.1     = 11,3.m2

1          = 11,3m2

m2 = 0,0885

Reaksi: 2NaOH + (COOH)2 →  (COONa)2 + 2H2O

Perubahan warna:         tidak berwarna  → merah

v     Penentuan konsentrasi HCl

Titrat:               NaOH

Titran:               HCl

Indikator 1:       jingga metil

Tabel 3. Titrasi NaOH oleh HCl (titrasi basa kuat oleh asam kuat)

Ulangan NaOH (m) NaOH (m) Vol. HCl [HCl]
Awal Akhir Terpakai
1 0,1 10 19,8 32,6 12,8 0,0781
2 0,1 10 32,6 44,7 12,1 0,0862
3 0,1 10 1,1 14,6 13,5 0,0741
Total (m) 0,0783

Contoh perhitungan:

Konsentrasi HCl ulangan 1:

v1.m1 = v2.m2

10.1     = 12,8.m2

1          = 12,8m2

m2 = 0,0781

Reaksi: HCl + NaOH   →   NaCl + H2O

Perubahan warna:         jingga  → merah

Indikator 2:       merah metil

Tabel 4. Titrasi NaOH oleh HCl (titrasi basa kuat oleh asam kuat)

Ulangan NaOH (m) NaOH (m) Vol. HCl [HCl]
Awal Akhir Terpakai
1 0,1 10 34,5 46,1 11,6 0,0862
2 0,1 10 0 13,0 13 0,0769
3 0,1 10 14,6 25,6 11 0,0909
Total (m) 0,0847

Contoh perhitungan:

Konsentrasi HCl ulangan 1:

v1.m1 = v2.m2

10.1     = 11,6.m2

1          = 11,6m2

m2 = 0,0862

Reaksi: HCl + NaOH   →   NaCl + H2O

Perubahan warna:         kuning  → merah

Indikator 3:       fenolftalein

Tabel 5. Titrasi NaOH oleh HCl (titrasi basa kuat oleh asam kuat)

Ulangan NaOH (m) NaOH (m) Vol. HCl [HCl]
Awal Akhir Terpakai
1 0,1 10 0 11,4 11,4 0,0877
2 0,1 10 11,4 22,9 11,5 0,0870
3 0,1 10 22,9 34,5 1,6 0,0862
Total (m) 0,0870

Contoh perhitungan:

Konsentrasi HCl ulangan 1:

v1.m1 = v2.m2

10.1     = 11,4.m2

1          = 11,4m2

m2 = 0,0877

Reaksi: HCl + NaOH   →   NaCl + H2O

Perubahan warna:         merah muda  → tidak berwarna

v     Penentuan konsentrasi NaOH

Titrat:               HCl

Titran:               NaOH

Indikator 1:       merah metil

Tabel 6. Titrasi HCl oleh NaOH (titrasi asam kuat oleh basa kuat)

Ulangan HCl (m) HCl (m) V.NaOH [NaOH]
Awal Akhir Terpakai
1 0,1 10 3,9 12,2 8,3 0,1205
2 0,1 10 12,2 20,89 8,65 0,1156
3 0,1 10 20,85 29,5 8,65 0,1156
Total (m) 0,1172

Contoh perhitungan:

Konsentrasi HCl ulangan 1:

v1.m1 = v2.m2

10.1     = 8,3.m2

1          = 8,3m2

m2 = 0,1172

Reaksi: HCl + NaOH   →   NaCl + H2O

Perubahan warna:         merah  → kuning

Indikator 2:       jingga metil

Tabel 7. Titrasi HCl oleh NaOH (titrasi asam kuat oleh basa kuat)

Ulangan HCl (m) HCl (m) V.NaOH [NaOH]
Awal Akhir Terpakai
1 0,1 10 29,5 38,5 9 0,1111
2 0,1 10 11,4 20,8 9,4 0,1064
3 0,1 10 20,8 28,8 8 0,1250
Total (m) 0,1142

Contoh perhitungan:

Konsentrasi HCl ulangan 1:

v1.m1 = v2.m2

10.1     = 9.m2

1          = 9m2

m2 = 0,1111

Reaksi: HCl + NaOH   →   NaCl + H2O

Perubahan warna:         merah  → jingga

Indikator 3:       bromtimol biru

Tabel 8. Titrasi HCl oleh NaOH (titrasi asam kuat oleh basa kuat)

Ulangan HCl (m) HCl (m) V.NaOH [NaOH]
Awal Akhir Terpakai
1 0,1 10 28,8 38 9,2 0,1087
2 0,1 10 0,7 10,3 9,6 0,1042
3 0,1 10 10,3 18,7 8,4 0,1190
Total (m) 0,1106

Contoh perhitungan:

Konsentrasi HCl ulangan 1:

v1.m1 = v2.m2

10.1     = 9,2.m2

1          = 9,2m2

m2 = 0,1087

Reaksi: HCl + NaOH   →   NaCl + H2O

Perubahan warna:         kuning  → biru

Pembahasan

Dalam titrasi, analat direaksikan dengan suatu pereaksi agar jumlah kedua zat tersebut ekivalen. Bila pereaksi dalam bentuk padat, maka beratnya harus diketahui dengan tepat. Namun, jika pereaksi yang digunakan dalam bentuk larutan, maka yang harus diketahui dengan tepat adalah volum dan konsentrasinya. Volum yang tepat, relatif mudah diketahui, sedangkan untuk mengetahui berat yang tepat, zat tersebut harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi. Contoh zat yang tidak cukup murni adalah NaOH. Mungkin NaOH dapat dihasilkan cukup murni dalam pembuatannya, tapi dalam penyimpanannya, NaOH mengalami perubahan antara lain karena bersifat higroskopis, sehingga menarik uap air dari udara. Selain itu NaOH juga mudah bereaksi dengan CO2 dalam udara. Kedua hal ini mengakibatkan NaOH sulit untuk diketahui berapa sebenarnya NaOH murni yang terkandung di dalamnya. Tanpa mengetahui konsentrasi NaOH secara tepat, maka titrasi yang menggunakan NaOH tidak dapat dipakai untuk mengetahui jumlah analat dengan tepat. Oleh karena itu, standardisasi NaOH sangat dibutuhkan (Harjadi 1986).

Standardisasi adalah suatu usaha untuk menentukan konsentrasi yang tepat dari calon larutan baku. Cara yang digunakan bermacam-macam, dapat memakai gravimetri maupun titrasi. Untuk standardisasi secara titrasi, maka bahan penstandarisasian haruslah suatu bahan baku primer, yakni suatu bahan yang konsentrasi larutannya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat murni yang dilarutkan dan volum larutan yang terjadi (Harjadi 1986).

Pada praktikum ini dilakukan analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi NaOH dan HCl. Analisis yang dilakukan adalah analisis tirimetri karena kadar komposisi ditetapkan berdasarkan volume pereaksi (konsentrasinya diketahui). Pada percobaan, dilakukan tiga perlakuan yaitu standardisasi larutan HCl 0,1N menggunakan boraks, standardisasi larutan NaOH 0,1N menggunakan asam oksalat, dan menentukan konsentrasi HCl dan NaOH. Pada percobaan pertama, yaitu pembuatan larutan standar HCl menggunakan boraks, indikator yang digunakan ialah merah metil. Perubahan warna yang terjadi pada proses penitrasian ini adalah berubahnya warna kuning (warna basa) menjadi merah (warna asam). Perubahan warna ini terjadi karena telah tercapainya titik ekivalen, yaitu titik di mana titran (HCl) dan titrat (boraks) tepat saling menghabiskan, tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. Rerata volume larutan HCl yang diperlukan untuk titrasi sebanyak 12,8 ml dengan konsentrasi HCl sebesar 0,0781.

Percobaan kedua, pembuatan larutan standar NaOH menggunakan asam oksalat. Pada saat titrasi terjadi perubahan warna dari tak berwarna (wana basa) menjadi merah muda (warna asam). Indikator yang digunakan adalah fenolftalein. Rerata volume NaOH yang terpakai sebanyak 11,23 dan konsentrasi NaOH adalah 0,0890.

Percobaan ketiga, penentuan konsentrasi HCl dan NaOH. Indikator yang digunakan pada penentuan konsentrasi HCl yaitu jingga metil, merah metil, dan fenolftalein. Masing-masing indikator memberikan reaksi perubahan warna yang berbeda-beda. Untuk indikator jingga metil, terjadi perubahan warna dari jingga (basa) ke merah (asam), dari kuning (basa) menjadi merah (asam) pada merah metil, dan untuk fenolftalein, dari warna merah muda (basa) berubah menjadi tak berwarna (asam). Sementara itu, tiga indikator yang digunakan pada percobaan penentuan konsentrasi NaOH adalah merah metil, jingga metil, dan bromtimol biru. Warna merah berubah menjadi kuning pada indikator merah metil, merah menjadi jingga pada jingga metil, dan kuning menjadi biru pada indikator bromtimol biru.

Berdasarkan hasil percobaan, dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa antara larutan HCl 0,1N dan boraks, larutan NaOH 0,1N dan asam oksalat serta larutan NaOH 0,1N dan larutan HCl 0,1N. Adanya reaksi asam-basa tersebut dapat dilihat dari terjadinya perubahan warna saat titrasi. Titrasi asam-basa disebut juga asidimetri-alkalimetri, titrasi asidimetri-alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam dan/atau basa. Indikator asam-basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungan berubah. Misalnya biru bromtimol (BB), dalam larutan asam berwarna kuning, tapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk BB), sedangkan warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. Akan tetapi, asam dan basa di sini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan (Harjadi 1986­).

Tabel  Beberapa indikator asam-basa.

Nama Trayek pH Warna
Asam Basa
Jingga metal 3,1 – 4,4 Merah Jingga
Merah metal 4,2 – 6,3 Merah Kuning
Fenolftalein 8,0 – 9,6 Tidak berwarna Merah
Biru bromtimol 6,0 – 7,6 Kuning Biru

Sumber: Harjadi 1986.

Pada praktikum ini,  alat-alat laboratorium yang digunakan adalah gelas arloji, labu takar, erlenmeyer, pipet tetes, pipet volumetrik, buret, neraca analitik, gelas piala, pengaduk, dan corong. Neraca analitik digunakan untuk menimbang zat yang butuh ketelitian tinggi dalam skala kecil/mikro. Labu takar untuk menyiapkan larutan dalam kimia analitik yang konsentrasi dan jumlahnya diketahui dengan pasti dengan keakuratan yang sangat tinggi. Erlenmeyer, digunakan dalam proses titrasi untuk menampung larutan yang akan dititrasi. Gelas piala, untuk mereaksikan cairan, memanaskan/memasak cairan dan membuat endapan dalam jumlah besar. Pipet tetes berfungsi untuk membantu memindahkan cairan dari wadah yang satu ke wadah yang lain dalam jumlah yang sangat kecil tetes demi tetes, sedangkan pipet volumetrik untuk memindahkan larutan dengan ukuran volume tertentu. Buret digunakan untuk mengeluarkan cairan dengan volume sembarang tetapi tepat. Gelas arloji berfungsi sebagai penutup yaitu untuk menutup bejana lain pada waktu pemanasan dan sebagainya dan untuk menguapkan suatu cairan. Pengaduk, untuk mengaduk, sebagai perantara dan membersihkan endapan pada dinding-dinding bejana. Corong dipakai untuk membantu memasukkan cairan ke dalam botol yang bermulut kecil, buret, atau untuk menyaring endapan dengan kertas saring.

Simpulan

Alat-alat laboratorium memiliki fungsi dan cara penggunaan yang beragam, ada yang sebagai wadah, alat bantu, dan pengukur volume dengan berbagai ukuran. Mulai dari yang sederhana misalnya alat-alat gelas sampai alat-alat canggih yang cukup rumit penggunaannya.

Alat-alat analisis kimia umumnya digunakan dalam pekerjaan titrasi, gravimetri, maupun analisis kuantitatif anorganik. Pada praktikum ini, metode yang digunakan dalam analisis kuantitatifadalah standardisasi. Standardisasi adalah suatu usaha untuk menentukan konsentrasi yang tepat dari calon larutan baku.

Daftar Pustaka

Harjadi W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.

Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran edisi 2. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Syukri. 1999.  Kimia Dasar 2. Bandung: ITB.